Image by FlamingText.com

Sabtu, 31 Desember 2011



Makna di Balik Bunyi Terompet di Malam Tahun Baru

SUMBER : LIFESTYLE.KOMPASIANA.COM

File: Tahun baru
Setiap kali tahun baru datang, kebanyakan dari kita berusaha menyambutnya dengan berbagai cara. Kita membuat persiapan penyambutan tahun baru. Dari berbagai cara penyambutan tahun baru itu , saya melihat ada dua hal yang tidak pernah terlewatkan. Pertama, meniup terompet, membunyikan klakson mobil, motor, kapal, dan sirine. Kedua, membakar petasan, membakar ikan, dan membakar sate.

Yang menjadi pertanyaan kita, kenapa mesti meniup terompet, membunyikan klakson, serta membakar petasan, membakar ikan, dan sate pada saat terjadinya pergantian tahun? Apakah perbuatan itu hanya membuang-buang waktu dan biaya saja? Apakah mungkin ada makna dan hikmah di balik semua perbuatan itu?
Saya melihatnya, perbuatan meniup terompet dan membunyikan klakson itu hanyalah perbuatan fisik yang semua orang bisa mendengar dan menyaksikannya. Saya juga menilai bahwa perbuatan itu bukanlah perbuatan yang kosong tanpa makna. Juga bukan perbuatan yang sia-sia. Secara pasti saya menilai ada hikmah dan maknanya.
Dengan ditiupnya teromkpet serta dibunyikannnya klakson dan sirene, paling tidak bermakna mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa tahun baru sudah datang. Kita diingatkan dan disadarkan agar segera menyingsingkan tangan kita untuk bangun dan bangkit menyambut kedatangan tangan baru dengan melakukan perbuatan yang positif dan berguna bukan saja untuk diri sendiri dan keluarga tetapi juga buat masyarakat luas.
Dengan nyaringnya bunyi terompet dan sirine, kita diingatkan agar segera memulai kehidupan di awal tahun baru dengan semangat baru. Kita himpun dan kita kerahkan seluruh potensi dan kemampuan yang ada dalam diri kita untuk meraih masa depan dan kehidupan yang lebih baik daripada tahun sebelumnya.
Dengan bersahut-sahutannya suara terompet dan sirine di malam tahun baru, seharusnya menyadarkan kita bahwa semua perbuatan buruk, negatif, dan merugikan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat yang kita lakukan pada tahun lalu kita enyahkan dan kita buang jauh-jauh. Kemudian kita ganti di tahun baru 2012 ini dengan perbuatan baik dan penuh manfaat.

Lalu apa makna dari perbuatan membakar ikan, ayam, dan sate di malam pergantian tahun baru? Perbuatan ini sebenarnya hanya untuk senang-senang seperti orang yang mengadakan pesta. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, ternyata kita juga diingatkan agar segera membakar seluruh perbuatan buruk dan negatif yang kita lakukan sepanjang tahun 2011.
Kita bakar sampai hangus semua perbuatan kita yang negatif dan buruk sehingga tidak bisa lagi bangkit dan bergerak pada tahun 2012, seperti kebiasan kita yang suka minuman keras sampai teler, kebiasaan kita yang suka bermain judi, kebiasaan kita yang suka selingkuh, kebiasaan kita yang pelit tidak mau sedekah, kebiasaan kita suka mengadu domba, kebiasaan kita yang suka iri dan dengki, kebiasaan kita yang senang melihat orang lain susah dan sedih melihat orang lain senang, dan kebiasaan buruk dan tercela lainnya.
Pada tahun 2012 kita berjanji menjadi manusia baru yang sifat, tingkah laku, dan perbuatan kita serba baik dan bermanfaat. Di tahun 2012 kita harus menjadi sebaik-baik manusia, yaitu orang yang panjang umurnya dan baik perbuatannya. Kita harus berusaha menghindar dan menjauhi menjadi seburuk-buruk manusia, yaitu orang yang panjang umurnya tetapi buruk sikap dan perbuatannya.
Pada tahun 2012 kita harus berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bukan saja untuk diri sendiri, dan keluarga, tetapi juga untuk masyarakat luas. Jika kebetulan kita punya pengetahuan dan ketrampilan, maka sebarkan juga buat orang lain. Kalau kita punya kelebihan harta, bantulah meringankan penderitaan orang lain yang hidupnya serba kekurangan yang ada di sekitar kita.
Intinya, pada tahun 2012 ini kita harus berusaha untuk menebar senyum dan kebahagiaan buat orang lain. Kita harus menjadi orang yang menyenagkan buat orang lain dengan menebar banyak perbuatan baik dan peduli dengan penderitaan orang lain yang berada di sekitar kita.

introspeksi Diri Menjelang Tahun Baru



Kemeriahan malam Tahun Baru adalah waktu yang selalu dinantikan oleh seluruh umat manusia di dunia. Bagi sebagian besar masyarakat dunia, malam pergantian Tahun Baru merupakan moment yang spesial dan sangat menggembirakan. Banyak diantara mereka yang mempersiapkan acara pergantian tahun baru ini dengan begitu mewahnya, namun tidak sedikit juga masyarakat yang memperlakukan malam tahun baru layaknya hari-hari biasa.
Tradisi menjelang pergantian tahun semakin menambah kemeriahan suasana. Kita sering menyaksikan pesta kembang api yang begitu indahnya, suara terompet yang saling bersahutan dan memekakkan telingga, arak-arakan di jalan raya, keramaian di setiap sudut lingkungan sampai pesta besar-besaran di hotel berbintang. Semuanya larut dalam kegembiraan dan kesenangan.
Kegembiraan dan kesenangan yang berlebihan menjelang pergantian tahun, terkadang membuat banyak orang lalai dan lupa bahwa ada sesuatu yang bisa lebih bermanfaat dan bermakna bagi hidup dan kehidupannya, yaitu melakukan introspeksi diri. Dengan pikiran yang jernih, hati yang lapang dan suasana yang tenang, mencoba merenungi peristiwa yang menimpa hidup dan kehidupan kita,  melakukan kilas balik terhadap perjalanan diri kita setahun ke belakang.

Aku menyadari bahwa menjelang pergantian tahun,  aku  juga merasakan kegembiraan seperti orang lain. Hanya saja aku tidak bisa seperti mereka dengan melakukan pesta apalagi menghambur-hamburkan uang.  Di balik kebahagiaan dan kegembiraan itu, aku tak bisa menyembunyikan perasaanku sendiri yaitu ketika datang kesedihan dan kekhawatiran.
Dalam kesedihanku, aku selalu teringat dan memikirkan ; Berapa banyak dosa-dosa yang telah aku lakukan di tahun lalu? Sudah sejauh manakah aku bisa berbakti pada kedua orangtuaku? Berapa banyak hati yang terluka akibat ucapan dan perbuatan burukku?  Berapa banyak waktu dan kesempatan yang terbuang percuma? Berapa banyak orang yang seharusnya aku bisa tolong namun aku tidak mempedulikannya? Sungguh, semuanya akan menjadi kesedihan dan duka dalam hatiku.
Ketika hati sedang bersedih, kekhawatiran pun muncul mengiringi. Aku khawatir kalau tahun yang akan datang akan lebih buruk dari tahun sebelumnya. Aku khawatir akan melakukan dosa yang semakin besar di tahun mendatang. Aku khawatir tidak bisa berbakti pada kedua orangtuaku dan memperlakukan mereka dengan baik di tahun mendatang. Aku khawatir di tahun mendatang akan lebih banyak orang yang tersakiti akibat ucapan dan perbuatan burukku. Aku khawatir tahun baru ini akan menjadikanku sebagai manusia yang tidak berguna dan tidak juga bermanfaat bagi orang lain. Semuanya menjadikanku selalu merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi di tahun berikutnya.
Menurut pemikiranku yang bodoh, pergantian tahun ini membawa berkah pada kehidupan manusia yang mau berpikir. Terkadang kita lalai dengan kesenangan yang diberikan Allah, dan menjelang pergantian tahun, kita baru menyadarinya. Terkadang kita lupa dengan kebaikan yang telah Allah gariskan pada kita, dan menjelang pergantian tahun,  kita termotivasi untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Allah karuniakan. Terkadang kita sombong dengan keberhasilan maupun penghargaan yang kita raih, namun menjelang pergantian tahun,  kita menyesal telah berbuat sombong dan berusaha untuk menjadi orang yang rendah hati di tahun berikutnya.
Semoga menjelang pergantian tahun ini, kita dijauhkan dari sifat lalai dan berlebihan dalam menyambut malam tahun baru, karena sifat lalai dan berlebihan bisa menyebabkan kita tidak memanfaatkan moment baik ini untuk melakukan introspeksi diri. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang beruntung, Amin.

MAKNA KEMBANG API PADA MALAM TAHUN BARU


Menjelang Tahun Baru 2012, suasana tadi malam sungguh sangat meriah. Berbagai lapisan masyarakat sibuk menanti kedatangan pergantian tahun baru, seolah-olah mereka tidak mau melewatkan momentum indah ini. Ada yang mengadakan pesta, ada yang berkeliling kota, ada yang mengadakan syukuran, ada juga yang mengadakan pengajian. Stasiun televisi pun sibuk dengan berbagai programnya demi menyambut detik-detik menjelang pergantian tahun.
Cuaca malam tahun baru yang cerah di sekitar Jakarta dan sekitarnya, bulan yang bersinar dengan terangnya, hembusan angin yang sejuk dan menyegarkan, menambah suasana malam tahun baru semakin indah. Kerumunan orang di setiap tempat, hiruk pikuk manusia di lokasi hiburan, jalanan yang dipenuhi para pengendara, lalu lalang masyarakat di setiap jengkal tanah, menambah kemeriahan suasana malam tahun baru yang ditunggu-tunggu.
Akhirnya detik-detik pertama di tahun 2012 telah tiba. Secara serentak pesta kembang api pun dimulai, jutaan kembang api meluncur ke udara begitu cepatnya, suara luncuran kembang api yang enak untuk didengar, ledakan kembang api yang bergemuruh, semburan kembang api di langit yang begitu indah untuk dipandang. Suara terompet yang saling bersahutan dan memekakkan telinga, sorak sorai masyarakat yang tiada berhenti ikut menambah kemeriahan suasana malam tahun baru yang spesial.

Teringat akan introspeksi diri menjelang tahun 2012 yang aku tulis sehari sebelumnya, di tengah-tengah kemeriahan malam tahun baru, aku sejenak terdiam dengan suara petasan yang begitu kerasnya di angkasa. Suara petasan yang mengagetkan itu aku anggap sebagai isyarat, penegur dan pembuka hati untuk merenung apa yang seharusnya aku ambil  pelajaran dari kemeriahan suasana tersebut. Akhirnya dengan keterbatasan pemikiranku, aku mencoba menelusuri pelajaran yang lebih berharga dan bermakna dibalik semuanya.
Hal yang paling menonjol pada malam tahun baru tersebut menurutku adalah pesta kembang api. Kenapa? Begitu banyak orang yang menantikan pesta kembang api pada malam tahun baru. Suara yang keras tapi terdengar lembut, keindahan warna-warni ledakan kembang api,  luncuran kembang api yang begitu indahnya ke angkasa, dan cahaya yang ditimbulkan dari ledakan kembang api yang dapat dinikmati dari arah manapun, membuat kebanyakan orang sayang bila harus melewatkannya.
Saya mencoba untuk menguraikan makna pesta kembang api pada malam tahun baru, yang menurutku banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil untuk mempersiapkan diri di tahun mendatang.
Pertama, untuk meluncurkan kembang api maka kita memerlukan api. Api adalah niat dan tekad yang kuat. Dengan niat dan tekad yang kuat untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan hidup, maka peluang besar pun akan didapatkan. Dan dengan niat serta tekad yang kuat, kita akan lebih mampu menghadapi terhadap segala kemungkinan yang terjadi di tengah perjalanan dan usaha kita.
Kedua, bahwa kembang api itu selalu diluncurkan dari bawah ke atas atau dari bumi ke angkasa.  Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa setiap perjalanan menuju kesuksesan memerlukan proses dan proses itu tentunya akan berasal dari bawah dulu. Jangan pernah bermimpi bahwa kita akan langsung berada di puncak keberhasilan tanpa merangkak dan menjalani proses terlebih dahulu dari bawah.
Ketiga, bahwa untuk mendapatkan kembang api dan menikmati keindahannya, maka kita harus membeli untuk mendapatkannya. Membeli kesuksesan berarti berjuang dan mau berkorban demi meraih kesuksesannya. Maka kesuksesan, keberhasilan dan kebahagiaan hidup, ia memerlukan perjuangan dan pengorbanan dari diri kita. Mana mungkin kita dapat meraih kesuksesan kalau kita tidak mau berjuang dan berkorban.
Keempat, bahwa kembang api itu akan selalu diarahkan ke atas atau ke angkasa untuk mendapatkan keindahannya. Maka gapailah cita-cita setinggi mungkin dan persiapkan diri kita untuk menuju kesana. Janganlah berputus asa untuk menjadi yang terbaik, karena setiap manusia ada kesempatan untuk menjadi yang terbaik.
Kelima, bahwa ledakan kembang api itu menghasilkan percikan api yang berwarna-warni dan sungguh sangat indah. Warna-warni adalah keragaman kepribadian dan keragaman kepribadian yang baik adalah kekayaan jiwa. Dengan kekayaan jiwa, maka semuanya akan menjadi mudah dan indah. Maka berusahalah agar kita menjadi orang yang kaya jiwa dan jangan sekali-kali menjadi orang yang miskin jiwa.
Keenam, bahwa cahaya yang ditimbulkan kembang api akan menyinari tempat di sekitarnya. Maka hendaklah kita menjadi orang yang mampu memberikan cahaya kepada orang lain, memberikan sinar ketenangan kepada orang lain, memberikan yang terbaik bagi orang lain dan berusaha menghilangkan kegelapan jiwa orang lain. Jadilah orang yang mampu memberikan solusi dan pencerahan bagi orang yang membutuhkannya.
Ketujuh, bahwa kembang api akan terlihat semakin indah bila perpaduan suara ledakan dan warna-warni cahaya terjadi ketika berada dalam kegelapan. Bunyi ledakan adalah isyarat bahwa segala sesuatu dapat kita maknai walaupun hanya sekedar bunyi atau suara. Dan apa yang kita bisa lihat merupakan pertanda bahwa kita harus mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian. Jika kita bisa memaknai dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang menimpa hidup kita, Insya Allah kita akan dapat membebaskan diri kita dari kegelapandan kesusahan.
Semoga dengan tulisan ini, akan memberikan manfaat bagi diri saya khususnya dan pembaca lain pada umumnya. Karena sesungguhnya sedalam apapun suatu tulisan tapi kalau kita tidak bisa menjiwainya, maka hal itu tidaklah akan berarti apa-apa.   Dan sebaik apapun renungan dan pemaknaan, jika kita tidak sanggup merealisasikannya, maka hal itu adalah sia-sia. Semoga dengan memahami makna pesta kembang api pada malam tahun baru ini, akan terpanggil hati kita untuk meraih kesuksesan di tahun mendatang. Niat dan tekad yang kuat, memulai langkah dari bawah, perjuangan dan pengorbanan, bercita-cita menjadi yang terbaik, kekayaan jiwa dan peka terhadap setiap peluang adalah modal awal memasuki tahun baru 2012. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung dan mampu memaknai setiap detil kehidupan, amin.

Rabu, 28 Desember 2011



KUMPULAN CERPEN

CINTA YANG TERGANTI
OLEH  : STEPHANI

“Bunda tahu, kehilangan Rado sangat menyakitkan dan tidak bisa tergantikan. Tapi coba Rianti membuka hati buat Ryan. Dia juga saudara kembar Rado, setidaknya....”

Guntur di luar, suaranya menggiriskan hati. Angin dan air seperti beradu. Dingin. Bibirku sudah membiru, gigiku beradu, menahan dingin yang menggigit. Padahal sudah kukenakan
sweater pemberian Rado, ketika dia menjalankan tugas ke Padang. Rado? Saat dia mengingat nama itu, tiba-tiba air bening menyeruak begitu saja dari matanya. Bobol lagi pertahananku. Dasar cengeng! Kenapa aku harus menangis lagi?

Peduli amat, orang bilang cintaku cinta monyet. Namanya juga baru kali ini aku mengenal cowok secara serius. Maklum. Keluargaku sedikit kolot. Anak cewek tidak boleh keluyuran. Pulang sekolah, wajib langsung diam di rumah. Kalau tidak ikut pengajian, aku musti membantu Meta, adikku, belajar. Kadang aku juga menemani ibu belanja keperluan toko kami. Padahal aku merasa sudah dewasa, umurku sudah enam belas tahun... tapi tetap saja kedua orangtuaku menganggap aku belum tahu apa-apa.

Siang itu aku mau menjemput adikku. Kebetulan aku pulang cepat, sehingga bisa menjemput Meta. Ketika aku menyeberangi jalan, tiba-tiba muncul sebuah mobil sedan berwarna biru langsung menuju ke arahku. Karena begitu cepatnya, aku tak mampu berlari atau berteriak lagi. Aku malah terpaku, seperti menunggu maut itu menjemputku....
Darrr! Suara keras itu memekakkan telinga. Aku merasa tubuhku melayang, entah berapa lama sampai sebuah tangan dingin menepuk-nepuk pipiku.

“Bangun, Mbak.... Mbak nggak apa-apa?”
Aku menggeliat. Ringan banget rasanya. Kupikir aku sudah mati. Ternyata aku sudah ada di sebuah rumah makan. Aku baru ingat, rumah makan itu kan letaknya berseberangan dengan sekolah adikku. Lantas....

“Mbak tadi nyaris jadi korban tabrak lari. Orang gila tuh! Untung ada temannya mbak duluan nyamber. Kalau tidak, aduhh...” cerocos seorang ibu setengah baya yang keluar sambil membawakan dua cangkir teh hangat. Mmm... pasti si empunya rumah makan.

“Temanku???” Aku berusaha menajamkan lagi penglihatanku. Sesosok cowok jangkung dengan baju seragam yang sama denganku, kelihatan menunduk tersipu.

“Sori, aku tadi ngaku-ngaku temen kamu. Nggak apa-apa kan, kita juga satu sekolah... daripada ribet neranginnya ke ibu itu,” bisik cowok itu.

Aku terhenyak. Aku yang malu, anak satu sekolah tidak kukenali. Kuper banget.
“Yuk kuantar pulang. Aku bawa kendaraan....”

Aku menggeleng. Tiba-tiba bayangan adikku terlintas....

“Aku ada janji. Thanks, ya....”

“Yakin, nggak apa-apa?”

Aku menggangguk, “Serius.”

“Oke deh... bye. Aku duluan.” Cowok itu beranjak dari duduknya, sebelum aku sadar, dia sudah pergi. Dasar! Bodoh benar aku. Kenapa tidak kutanya siapa namanya? Kelas berapa?

Ah, wajahnya saja mulai samar-samar. Aku tidak ingat bener, hanya sekilas kuingat tatapan matanya yang tajam dan genggaman tangannya yang begitu kuat dan hangat. Siapa sangka, aku kembali bertemu cowok itu saat briefing hari pertama workshop persabu-abu di sekolahku. Rado... menyebut namanya saja, pipiku bisa merona tiba-tiba. Entah kenapa, keingintahuanku untuk mengenal dirinya lebih dalam begitu menggoda, sampai-sampai aku jadi lebih cepat datang ke sekolah, hanya untuk melihatnya datang, dari teras kelasku.
11 JANUARI
Rado... Rado. Andai ini mimpi, aku tak berani untuk bangun. Aku ingin tetap terlelap dalam mimpiku. Saat kau bilang, kau ingin selalu menjagaku dalam sedih dan senang, dalam tangis dan tawa. Duh, romantisnya. Dia nembak aku bukan dengan cincin, bunga, atau sekotak coklat. Tapi dia membuatku terhenyak, ketika dia memberiku kumpulan lagu-lagu kesukaanku dalam satu CD yang diamix sendiri. Seperti lagu Gigi, ya.. dia nembak aku pas tanggal 11 Januari, dua tahun yang lalu.

Rado... andai kamu tahu, kamu benar-benar sudah mengubah sebagian besar hidupku. Aku yang pemalu, penyendiri, kini seperti bunga yang mulai berani memperlihatkan kelopaknya. Aku mulai berani aktif di berbagai ekskul, seperti kamu. Aku mulai tahu, tidak semua laki-laki sejahat yang kudengar dari doktrin kedua orangtuaku. Ada juga cowok yang berhati hangat seperti kamu.

Saat aku jatuh, saat aku kecewa, kamu selalu ada. Ketika rumor membuat keluargaku nyaris berantakan, kamu justru datang menentramkanku. Aku tak tahu lagi, apa yang harus kukatakan buat menunjukkan aku juga serius sayang kamu. Impian kita rupanya tinggal selangkah lagi. Dua tahun sudah kita lalui, orangtua kita juga seperti keluarga besar.

Rencana pertunangan di depan mata. Bahkan sudah ada tanggal pernikahan! Kata orangtua kami, bertunangan dulu yang penting. Biar masih kuliah, ntar juga bisa diatur.

Rona bahagia tidak mampu kusembunyikan. Pagi itu, kebaya brokat warna biru muda siap kukenakan. Aku masih sibuk dirias, saat kudengar suara ibuku seperti berteriak, setengah histeris. Aku masih tak mengerti, ketika ayahku duduk di depanku, berkata lamat-lamat.... Rado sudah pergi.

Seisi rumahku menjadi gaduh. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa menangis. Aku juga tak merasakan apa-apa, ketika ayah menjelaskan Rado mengalami kecelakaan 5. dan tewas seketika di tempat kejadian. Telingaku seperti mendengung, tak jelas. Badanku seperti mati rasa, kebal, tak berasa apa pun.

11 Januari saat Rado nembak aku. Tanggal itu pula rencana pertunangan kami. Tanggal itu pula tanggal Rado dimakamkan. Rado meninggalkanku, tanpa pesan, tanpa tanda apa pun. Cowok yang sudah dua tahun ini mengisi hari-hariku. Namanya memenuhi diary-ku. Namanya selalu ada dalam doa sujudku.

Aku tak punya air mata lagi. Entah kenapa, hingga jasadnya menghilang tertutup tanah, aku tetap tak mampu menangis. Aku seperti limbung, berada di tempat asing. Sekelilingku tak kukenali lagi.

Pulang ke rumah, ketika aku duduk di depan televisi, bayangan itu mengganggu lagi. Bayangan waktu Rado menolongku pertama kali, lantas dia mengajariku mengurus mading, sampai nembak aku dengan sebuah CD. Badan dan hatiku seperti mati rasa. Tiba-tiba saja, aku mendengar Ibu dan Ayah berteriak histeris, sekilas kulihat bayangan mereka semakin jauh dan gelap.

***
Minggu pagi, saat kumulai hariku. Aku melenggang sendiri. Tujuanku ke makam Rado, sekedar menengok dan mendoakannya. Ya, aku kangen. Tiba di makam, aku nyaris terhenyak. Mimpikah aku? Kenapa Rado masih duduk di depan makam? Lantas.....

Orangtua Rado menenangkanku. Ternyata satu hal yang belum kutahu. Rado punya saudara kembar yang diasuh neneknya. Ryan, nama cowok yang mirip sekali dengan Rado. Astaga....

Guntur masih menggelegar. Lamunanku terputus. Ah, aku terlalu lama melamun. Bayangan Rado dan Ryan tiba-tiba bermain dalam benakku. Aku ingat pembicaraan siang tadi di rumah, ketika bunda Rado datang.
“Bunda tahu, kehilangan Rado sangat menyakitkan dan tidak bisa tergantikan. Tapi coba Rianti membuka hati buat Ryan. Dia juga saudara kembar Rado, setidaknya....”

“Rado bisa diganti Ryan, itu maksud Bunda?” Entah kenapa, nadaku langsung tinggi menanggapi maksud ibu Rado. Memangnya aku barang. Tidak dengan A, bisa dengan B, sekalipun mereka sedarah?
Aku terduduk lemas di ruang makan. Bayangan Rado dan Ryan lamat-lamat semakin jauh. Kumohon, Tuhan, haruskah kuterima cinta Ryan? 
.
 


DEMI VALENTINE

OLEH : DONATUS

Domie tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya.“Apakah gue harus mencuri uang?” Sebersit pikiran kerap mengganggu pikiran Domie, setiap kali ia merasakan jalan buntu.
Satu-satunya barang berharga yang dimiliki cuma telepon genggam, hadiah ulang tahun dari ibunya setahun yang lalu. Jika tiba-tiba benda itu raib, tak cuma Ibu, tapi seisi rumah pasti akan geger mempermasalahkannya. Dan tipis harapan untuk bisa memiliki lagi sebuah ponsel.
“Jika anak-anak lagi istirahat, atau pas jam olahraga di lapangan, gue bisa menyelinap masuk ke kelas dan mencuri uang dari salah satu tas,” pikir Domie lagi. Ia tahu, banyak anak orang kaya yang ke sekolah bawa uang ratusan ribu. “Tapi kalo katahuan? Resikonya gede, bisa dikeluarin dari sekolah. Dan malunya itu!”
Domie tentu saja tak ingin berbuat konyol. Mencuri bukan cuma konyol, tapi dosa besar. Domie cepat-cepat menepis pikiran jahat itu. Uang memang harus ia dapatkan, tapi mesti dengan cara yang halal.
“Dom, elo liburan mau ke mana?” tanya Zetta, yang batal keluar dari kelas ketika dilihatnya Domie masih terpekur di bangkunya.
“Ke mana, ya? Nggak kepikiran sama sekali, Zet. Elo sendiri?” Domie balik bertanya pada teman sekelas sekaligus tetangga dekatnya itu. Zetta tinggal satu blok dengan Domie.
“Gue kayaknya harus ngungsi ke rumah Tante di Depok.”
“Emang kenapa? Takut banjir? Emang daerah kita banjir? Enggak, kan?”.

“Enggak, sih. Tapi kebetulan sebentar lagi rumah mau direnovasi. Nyokap pengen kamar anak-anak dipisah semua. Enak juga ngebayangin bakal punya kamar sendiri, jauh dari usilnya si Beng, adik gue itu. Tapi jadi repot selama rumah dibenahi. Mendingan gue ngungsi aja, daripada ntar terpaksa bantu-bantu jadi kuli bangunan. Hi hi hi....”
Domie cukup kenal dengan keluarga Zetta. Mereka keluarga paling kaya di Blok H. Sebersit pikiran muncul di benak Domie.
“Emang siapa yang bakal ngerenovasi, Zet?”
“Paling juga tetangga-tetangga kita sendiri. Atau orang-orang dari kampung belakang. Kayaknya sih bukan pekerjaan yang berat. Paling juga makan waktu seminggu, pas sama masa liburan kita. Jadi ntar, sepulang dari Depok, rumah udah beres lagi.”
“Bagus deh kalo gitu,” kata Domie.
“Bagus apanya?”
“Eh, elo jadi punya alasan untuk liburan ke Depok.”
“Elo mau juga?”
“Mau apa?”
“Liburan ke Depok.”
“Maksud elo?”
“Yaaa, siapa tahu elo mau nganter gue ke sana.”
Domie tercenung sebentar. “Kayaknya enggak deh, Zet.”
Zetta cemberut.
“Gue mendadak ada rencana baru buat ngisi liburan kita nanti.”
“Uh? Kok mendadak? Elo ngiri, ya?”
“Nggak! Bukan! Gue emang punya rencana.”
“Pasti elo mau nyusun karya tulis, buat diikutin Lomba Karya Ilmiah pertengahan tahun nanti, ya? Ya udah, kerjain aja!” Zetta mendengus kesal dan meninggalkan Domie. Domie cuma mengawasi cewek manis itu menghilang di luar kelas.
***.

Tante Zelda mengawasi cara kerja Domie yang cekatan. Meski bukan seorang tukang cat profesional, Domie terlihat bisa belajar dengan cepat. Ia menggerakkan kuas dengan benar, membuat hampir tak ada setitik pun cat yang menetes di lantai.
“Yang di kamar anak-anak warnanya pink, ya.” Tante Zelda mengingatkan. “Gudangnya tetep kuning aja, biar terang.”
“Iya, Tante.” Domie menjawab sambil terus menyapukan kuas cat ke tembok. Sebenarnya Domie agak gugup ditunggui Tante Zelda. Di rumah ini ada dua orang tukang batu dan tiga tenaga serabutan, tapi Tante Zelda lebih sering mengawasi dan menunggui Domie bekerja. Pasti karena Tante Zelda merasa paling dekat dengan Domie.
“Mungkin juga karena kasihan,” pikir Domie.
“Kamu nggak dimarahi orangtuamu, Dom?”
“Enggak, Tante. Bapak dan Ibu justru senang karena saya mau bekerja. Jadi kuli juga nggak apa-apa, yang penting halal.”
“Iya, ya. Lagian bagus juga kalo masih semuda kamu udah mau bekerja. Cuma, apa nggak sayang karenanya kamu jadi kehilangan acara liburan sekolah kamu?”
“Kebetulan saya nggak ada acara, Tante. Liburan cuma diam di rumah terus juga bosen. Eh, Zetta sama Beng kapan pulangnya?”
“Katanya sih Sabtu sore, dianter tantenya sendiri. Senin, kalian udah masuk sekolah lagi, kan?”
Domie mengangguk. Lalu, “Tapi janji ya, Tante. Tante nggak usah bilang-bilang ke Zetta bahwa saya jadi kuli di sini.”
“Lho, siapa bilang kamu jadi kuli? Kamu jadi tukang cat, dan nyatanya kamu bisa bekerja dengan baik. Kamu bakal nerima upah yang sepadan, karena hasil pekerjaanmu emang baik.”
“Iya, tapi tolong nggak usah bilang saya kerja di sini, ya....”
“Kenapa? Malu? Pekerjaan halal kok malu! Di negeri ini banyak yang sukanya mencuri uang rakyat tapi mereka pada nggak malu.”
“Kok Tante ngomongnya jadi ke mana-mana?” Domie menghentikan gerakan kuasnya. “Saya memang malu kalo ketahuan Zetta saya kerja di sini. Kalo aja Zetta nggak pergi liburan ke Depok, belum tentu saya sanggup meminta pekerjaan di rumah ini.”.

Tante Zelda menganguk-angguk paham. Ia bisa memaklumi jalan pikiran Domie. “Ya wis, kamu terusin kerjamu. Tante tinggal dulu untuk nengok kerjaan Pak Rodi, ya? Kalo udah waktunya makan siang, kamu harus makan. Ambil aja sendiri di meja makan dalam. Kamu nggak usah makan bareng mereka. Oke?”
“Oke, Tante!” Domie merasa senang karena ia sangat diistimewakan di rumah ini.
Domie meneruskan pekerjaannya dengan hati riang. Semangatnya kian tumbuh ketika ia membayangkan satu masalah akan segera dapat diselesaikannya. Kado Valentine yang akan dipersembahkannya buat Laudia bukan lagi impian kosong semata.
Sebuah arloji berbentuk hati seharga tiga rutus ribu rupiah itu adalah hadiah paling pas buat Laudia di hari Valentine. Hadiah yang harus ditebus dengan hasil kerja keras dan keringatnya sendiri.
Lagi-lagi Domie tersenyum.
***
Sebuah keributan terdengar dari luar.
“Gue bilang juga apa? Anak kecil maunya ikutan mulu! Damn! Sekarang apa coba? Baru juga tiga hari udah merengek-rengek minta pulang! Dasar!”
“Udah deh, sabar juga kenapa sih? Beng emang nggak mungkin bakal tahan terlalu lama kalo nggak dikelonin emaknya!” suara Tante Zelda.
Suara yang satunya lagi siapa?
“Tau begini mendingan dulu nggak usah ikut. Nyesel tujuh turunan deh gue ngajak Beng.”
Zetta?
“Ya udah, kamu boleh balik lagi ke Depok. Beng biar di rumah aja.”
“Huh, liburan tinggal tiga hari ngapain balik ke Depok! Tanggung!”
Ya, siapa lagi pemilik suara cempreng itu kalau bukan Zetta..

Zetta! Oh my God, itu memang Zetta!
“Mau ke mana, Sayang?”
“Nengokin calon kamar baru gue!”
“Eh, tunggu!!! Sini, kita makan dulu. Kamu belum makan, kan? Ini Mama bikin udang saus tiram kesukaanmu. Tunggu!!!”
“Makan aja sama Beng-Beng! Dasar anak mami!”
Terdengar suara kaleng cat kosong terjatuh. Mungkin Zetta sengaja menendangnya.
“Ya Allah!! Dom???!!! Ngapain elo di kamar gue?”
Domie tak berkutik, turun dari tangga segitiga dengan wajah pucat.
“Gue kerja di rumah elo, Zet.”
“Yaaah elo ini! Surprais banget, Dom. Tapi kenapa juga elo nggak bilang-bilang dari dulu. Kalo tau elo bakal ikutan kerja di sini, ngapain juga gue capek-capek ke Depok!” Zetta menatap Domie dengan takjub plus sesal. “Kan gue bisa bantu-bantu elo, Dom. Kita bisa ngobrol juga.”
“Gue... gue malu, Zet. Gue malu kalo ketahuan gue jadi kuli tukang cat di rumah elo sendiri.”
“Ngapain malu? Halal, kan? Daripada mencuri! Gue malah salut, karena elo mau kerja keras. Elo nggak cengeng, nggak jaim kayak teman kita yang lain.”
“Persis seperti ucapan ibunya tempo hari,” batin Domie. “Ibu dan anak sama-sama berhati mulia”
“Tapi tunggu dulu, Dom! Gue jadi curiga sekarang. Elo ini bukan dari keluarga yang pas-pasan. Ortu elo dua-duanya kerja. Bokap elo guru, nyokap elo pegawai negeri juga. Lalu buat apa elo memeras keringat kayak gini?” Zetta menatap Domie tanpa berkedip. Matanya penuh selidik. “Elo cuman mau nyari sensasi, atau ...?”
“Gue kepepet, Zet.”
“Punya utang maksud elo?”
“Bukan! Gue kudu ngumpulin duit buat beli kado Valentine’s Day bentar lagi.”
Zetta makin melotot. “Hah? Jadi elo lagi mgumpulin duit buat beli kado Valentine?!”
“Iya,” jawab Domie datar. “Nggak mungkin juga kan gue nodong ortu buat beli hadiah untuk...”
“Pacar elo? Elo punya pacar, Dom?”
“Gue mau nembak, Zet. Kayaknya pas banget kalo manfaatin moment Hari Kasih Sayang nanti.”
“Siapa cewek sial yang bakalan elo tembak, Dom? Siapa perempuan malang itu?” Zetta berpaling menyembunyikan wajah pucatnya.
“Laudia.”
“Hah?! Laudia?”.

“Iya. Emang kenapa?”
“Anak kelas 11 B itu, kan?”
Domie mengangguk pasrah.
“Pantesan kalo gitu. Pantesan elo bela-belain kerja keras pas libur sekolah kayak gini. Nggak taunya elo emang punya tujuan yang menurut gue rada mustahil. Emang elo mau hadiahi apa?”
“Arloji hati, harganya tiga ratus ribu perak,” kata Domie apa adanya. Kepalang basah, ia harus mengatakan semuanya pada Zetta. Domie berharap, Zetta bisa memberinya masukan yang berguna.
“Aduh, romantisnya!” jerit Zetta dalam bisikan. Zetta berharap, Domie tidak mendengarnya.
“Menurut elo gimana, Zet? Cocok enggak? Kalo warnanya pink keliatan norak enggak, sih? Atau malah cocok sama nuansa Valentine?”
“Terserah elo aja!” Zetta keluar dari kamar yang pengap oleh bau cat itu dengan wajah tak sedap dipandang.
Domie terlongong.
Tapi tiga detik kemudian Zetta kembali masuk ke kamar itu.
“Elo ini tolol atau gimana sih, Dom? Elo tau enggak sih, Laudia itu siapa? Dia itu bintang sinetron! Artis! Seleb!”
Domie tersentak melihat betapa marahnya Zetta.
“Lalu elo ini siapa? Cuma anak guru, murid biasa, bukan siapa-siapa! Ngaca doooonk...!!!”
Memucat wajah Domie. Tapi sebelum ia bisa berkata-kata, mendadak Zetta sudah berlari meninggalkannya.
Domie tak tahu, di kamar yang lain Zetta tengah menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya. Hatinya hancur lebur. Zetta tengah membayangkan betapa indahnya hidup ini jika ia yang akan menerima perhatian dan usaha yang begitu gigih dari Domie.
Domie memang tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya.
.

Senin, 26 Desember 2011

KEAJAIBAN MATEMATIKA

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 + 10 = 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Hebatkan?
Coba lihat simetri ini :

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

Sekarang lihat ini

Jika 101% dilihat dari sudut pandangan Matematika, apakah ia sama dengan 100%, atau ia LEBIH dari 100%?
Kita selalu mendengar orang berkata dia bisa memberi lebih dari 100%, atau kita selalu dalam situasi dimana seseorang ingin kita memberi 100% sepenuhnya.
Bagaimana bila ingin mencapai 101%?
Apakah nilai 100% dalam hidup?
Mungkin sedikit formula matematika dibawah ini dapat membantu memberi jawabannya.

Jika ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

Disamakan sebagai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka, kata KERJA KERAS bernilai :
11 + 5 + 18 + 10 + 1 + 11 + 5 + 18 + 19 + 1 = 99%

H-A-R-D-W-O-R-K
8 + 1 + 18 + 4 + 23 + !5 + 18 + 11 = 99%

K-N-O-W-L-E-D-G-E
11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96%

A-T-T-I-T-U-D-E
1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100%

Sikap diri atau ATTITUDE adalah perkara utama untuk mencapai 100% dalam hidup kita. Jika kita kerja keras sekalipun tapi tidak ada ATTITUDE yang positif didalam diri, kita masih belum mencapai 100%.

Tapi, LOVE OF GOD
12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 = 101%

atau, SAYANG ALLAH
19 + 1 + 25 + 1 + 14 + 7 + 1 + 12 + 12 + 1 + 8 = 101%

Minggu, 25 Desember 2011

CARA MEMBUAT TAMPILAN FACEBOOK YANG BARU
click here
http://www.facebook.com/about/timeline
keterangan :
click alamat web diatas dan silahkan click rubah tampilan pada
alamat web tersebut.
untuk menampilkan sebuah gambar iklan yang baru , silahkan 
anda mencarinya sendiri dengan gambar-gambar yang anda sukai.

Senin, 12 Desember 2011

CARA MEMBUAT HUJAN SALJU DI BLOG
 <script type="text/javascript" language="javascript" src="http://joesetapart.googlecode.com/files/Magic-Cursor.js" name="JSAcopas"></script>
CARA MEMBUAT GAMBAR BERGERAK DI BLOG
SILAHKAN COPY KETERNAGAN DI BAWAH INI


<script type="text/javascript" language="javascript" src="http://joesetapart.googlecode.com/files/Bleach.txt" name="DADrun"></script><script type="text/javascript" language="javascript" src="http://joesetapart.googlecode.com/files/Bleach.txt" name="DADrun"></script>
CARA MEMBUAT CURSOR YANG BARU PADA BLOG


<script type="text/javascript" language="javascript" src="http://joesetapart.googlecode.com/files/Mouse%20Clock.js" name="JSAcopas"></script>

kumpulan puisi

Kehilangan

Mengapa…?
mengapa aku harus kehilangannya untuk kedua kalinya
kini aku tak mengerti…
hatiku kini retak,remuk,dan hancur…
dulu hatiku yang slalu senang saat bersamanya
kini hilang harapan itu
dia pergi…
pergi menghadap sang khaliq

seharusnya aku harus ikhlaskannya
tapi tak bisa,

air mataku trus mengalir,dan membasahi pipiku
sekarang,fikirku hanya bagaimana bisa menyusulnya
aku kehilangan jati diriku saat ini,karna dia…
aku hanya bisa menangis dan menagisinya,
menjerit dan rasa penyesalan yang dalam
mengapa ku tak nyatakan rasaku padanya ?
sekarang, yang didepanku hanya raga tanpa nyawa

Dia pergi,Dia pergi,tinggalkanku,hanya itu ucapku
dulu waktu aku ingin ungkapkan rasaku padanya
ternyata Dia sudah memiliki orang yang dicintainya…
haruskah kurusak itu ?
tak mungkin, kini dia telah sendiri, tanpa kekasih hati
dan hari ini, saat kuberencana ingin ucapkan rasaku
tiba-tiba aku dengar dia kecelakaan dan tewas ditempat
tak terlintas difikirku, bahwa hari ini akan menjadi hari kelabu bagiku

Perpisahan

Titik-titik air mataku mengalir deras tak terbendung
Ketika lengan sentuhkan pensil untuk sebuah kertas
tercoret tulisan puitis,
"Taukah kau isi hatiku",,,?
Pernahkah kau pikirkan aku,,,?

Hingga tegamu lari dan berpaling dari pengharapanku
Dengan alasan cinta, walu untuk cinta,
kau tak pernah mau menyapa
lewat goresan tinta merah
kau buat puisi indah untukku
Puisi perpisahan...



Pengembara

Pengembara pergi sepanjang hari berjalan tanpa tujuan
Di tempat tersembunyi dia temukan sebuah intan
Ingin sekali di sentuhnya, namun sia-sia,
Karena intan di kelilingi api
yang buat dia duduk termenung

Lama di nanti padamnya api
dan itu membuatnya jenuh
hingga dia pergi, ...
Dia bertanya pada setiap orang
tentang peristiwa yang di alaminya
Tapi mereka diam...